*Welcome to my Blog, Selengkapnya...

Saturday, October 29, 2016

Berbuat baik membuatmu lebih sehat dan panjang umur


AmbarHome - Dalam beberapa tahun terakhir ini, para peneliti ingin tahu tentang dampak berbuat kebaikan pada tubuh manusia. Para ilmuwan ingin memahami seberapa jauh altruisme (keinginan untuk melakukan perbuatan baik) memengaruhi kesehatan, bahkan umur kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang memberikan waktu luangnya untuk menjadi sukarelawan, membantu di dapur umum untuk tunawisma, membersihkan sampah, membantu orang-orang lanjut usia ke toko kelontong, atau membantu tetangga sebelah, membersihkan tempat penampungan hewan terlantar, menanam pohon untuk penghijauan dan lain sebagainya.

Ketika kita berbuat baik, penelitian menunjukkan, kita akan merasa nyaman dan stres berkurang. Ini disebut pengaruh psikologis. Lalau, apa efek berbuat baik terhadap fisiologi atau tubuh fisik kita? Apakah berbuat baik juga memengaruhi panjang atau pendeknya umur kita juga?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi fokus 50 studi ilmiah yang didanai The Institute for Research on Unlimited Love, pimpinan Stephen G. Post, PhD, seorang profesor bioetika di Case Western Reserve University School of Medicine.

"Ada banyak penelitian yang membuktikan bahwa menerima kemurahan hati dan belas kasih, berefek positif pada kesehatan dan kesejahteraan si penerima. Dan manfaat dari kebaikan itu akan dikembalikan lagi ke si pemberi," kata Post.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan awal tahun ini, Post menjelaskan mengenai dasar-dasar biologis dari stres dan bagaimana altruisme dapat menjadi penawarnya.

Koneksi ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1956, ketika tim peneliti Cornell University mulai mengamati 427 wanita menikah dengan anak-anak mereka. Peneliti beranggapan bahwa ibu rumah tangga dengan banyak anak memiliki tingkat stres yang lebih besar dan meninggal dunia lebih awal dari wanita dengan jumlah anak yang lebih sedikit.

"Anehnya, peneliti menemukan bahwa jumlah anak-anak, pendidikan, kelas sosial dan status pekerjaan tidak mempengaruhi panjang atau pendeknya umur," tulis Post. Setelah mengamati para wanita ini selama 30 tahun, para peneliti menemukan bahwa 52 persen dari mereka yang tidak ambil bagian dalam pekerjaan sukarela, menderita berbagai penyakit berat. Sedangkan 36 persen yang melakukan kegiatan sebagai relawan sosial, tidak mengalami hal yang sama.

Dua penelitian besar lain menemukan bahwa orang tua yang mengajukan diri untuk diterima bekerja sebagai relawan, hidup lebih lama dibanding nonrelawan. Penelitian besar lain lagi menemukan, terjadi penurunan angka kematian dini sebesar 44 persen di kalangan orang-orang yang banyak melakukan pekerjaan sosial. Efek ini empat kali lebih besar daripada efek berolahraga sebanyak empat kali seminggu, jelas Post.

Ada juga studi lain yang melibatkan para siswa sebagai relawan. Mereka diminta untuk menonton film mengenai karya Ibu Teresa membantu masyarakat miskin di Calcutta. Peneliti menemukan, ada peningkatan antibodi yang signifikan selama dan setelah para siswa ini menonton. Efek peningkatan antibodi masih berlangsung sejam setelah film usai.

Memanfaatkan scan MRI, para ilmuwan telah berhasil mengidentifikasi daerah otak yang menjadi sangat aktif selama seseorang melakukan perbuatan yang melibatkan emosi kasih sayang. Otak ibu baru - lobus prefrontal - menjadi sangat aktif ketika dia melihat foto bayinya sendiri, dibandingkan dengan gambar bayi lain.

Sebuah studi baru-baru ini juga telah mengidentifikasi peningkatan hormon oksitosin pada orang yang sangat murah hati terhadap orang lain. Oksitosin adalah hormon yang biasa muncul pada ibu yang baru melahirkan dan menyusui bayinya. Inilah yang disebut hormon cinta sejati. Studi juga menunjukkan bahwa hormon ini membantu pria dan wanita membangun hubungan saling percaya.

Manusia adalah makhluk mamalia, dan seperti mamalia lain, kita adalah makhluk sosial. Ikatan sosial membantu memastikan kelangsungan hidup kita, jelas psikiater dari Harvard, Pofesor Gregory L.Fricchione, MD.

Perilaku altruistik juga dapat memicu produksi hormon kenyamanan yang disebut dopamin dan endorfin. Keduanya dapat menurunkan tingkat stres dan dengan demikian, berarti menurunkan tingkat peradangan.

"Semua tradisi spiritual dan penelitian bidang psikologis menegaskan, cara terbaik untuk menyingkirkan kepahitan, kemarahan, kecemburuan adalah melakukan hal positif kepada orang lain," kata Post lagi.

Kesimpulannya, Anda akan hidup lebih sehat dan panjang umur jika rajin berbuat baik berlandaskan rasa kasih sayang kepada sesama makhluk

Ditinjau oleh: dr. Jezzy Reisya


Sumber : Merdeka.com | Meetdoctor.com

0 comments:

Post a Comment

Komentar dengan sopan!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Ambar Syahputra | Produced by DNN Network | All Right Reserved
  • Terms/Privacy
  • Advertise
  • Login